Bab 5: Debu di Atas Marmer
“Kekuatan sejati tidak butuh pengakuan dari panggung yang penuh kilauan. Ia bergerak seperti algoritma dalam sunyi; tidak terlihat, tidak terdengar, namun mampu mengubah arah takdir hanya dengan satu pergeseran variabel yang tak disadari oleh musuhnya.”
Kehebohan di lobi Empyrean Group tak membuat Jonah bergeming. Ia membiarkan makian Margo berlalu begitu saja seperti angin lalu. Baginya, kemarahan adalah tanda kelemahan, dan Jonah sudah terlalu lama belajar untuk tetap tenang di bawah tekanan kode-kode rumit.
Ia berjalan keluar dari gedung, kembali ke trotoar panas Jakarta, dan memesan ojek daring. Tidak ada sedan hitam panjang kali ini; ia harus kembali menjadi Jonah yang dikenal dunia.
Sesampainya di rumah kecil yang ia tinggali bersama Ellia, ia menemukan istrinya sedang duduk di ruang tamu yang temaram. Wajah Ellia kuyu, matanya sembab. Di atas meja kayu tua itu, berserakan brosur pameran properti yang kini tampak seperti tumpukan kertas sampah tak bernilai.
“Kamu sudah pulang?” suara Ellia serak.
Jonah duduk di sampingnya, tidak mencoba memeluk secara berlebihan, hanya meletakkan tangannya di dekat tangan istrinya. “Ada apa, El? Aku dengar pertemuan di Empyrean tadi pagi tidak berjalan lancar.”
Ellia menoleh, menatap Jonah dengan tatapan kosong. “Bukan hanya tidak lancar, Jonah. Semuanya hancur. Proyek Metropolis Signature dibatalkan sepihak. Eyang jatuh pingsan di kantor tadi, dan sekarang Margo sedang mengamuk menyalahkan semua orang. Mereka bilang… ini karena ada ‘nasib buruk’ yang dibawa seseorang ke keluarga kita.”
Jonah tetap tenang. “Nasib buruk itu sering kali hanyalah hasil dari perencanaan yang sombong, El. Bukan salahmu, apalagi salah orang lain.”
“Tapi mereka akan kehilangan semuanya, Jonah. Dan itu artinya firma arsitektur kecilku juga akan mati karena modalnya ditarik oleh Eyang untuk menutupi hutang bank,” Ellia menelungkupkan wajah di tangannya.
Jonah menarik napas panjang. Inilah saatnya ia bergerak, namun dengan cara yang tidak akan disadari. “El, dengar. Aku punya teman lama di bidang IT. Dia bilang ada sebuah perusahaan manajemen aset baru yang sedang mencari mitra arsitek untuk proyek rebranding gedung-gedung lama di Jakarta Pusat. Nilai sejarahnya tinggi, dan mereka butuh seseorang yang punya visi seperti kamu.”
Ellia mendongak, ragu. “Jonah, jangan menghiburku dengan harapan kosong. Perusahaan besar mana yang mau melihat firma kecilku di saat keluarga Kiser saja baru saja ditendang oleh Empyrean?”
“Coba saja dulu,” ucap Jonah lembut. “Besok pagi, akan ada surel masuk. Jangan tanya bagaimana, anggap saja ini keberuntungan yang tertunda.”
Malam itu, saat Ellia sudah terlelap karena kelelahan, Jonah berdiri di balkon kecil rumah mereka. Ia memegang ponselnya, namun kali ini ia tidak menelepon. Ia hanya mengetik serangkaian instruksi pada terminal akses terenkripsi miliknya.
“Noa, kirimkan undangan tender tertutup kepada Firma Arsitek Ellia Kencana. Berikan kontrak proyek pemugaran Heritage Row. Pastikan termin pembayarannya di muka 40%. Dan ingat, identitasku tetap tersembunyi. Biarkan dia merasa ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri.”
Sebuah balasan masuk dalam hitungan detik. “Diterima, Tuan. Bagaimana dengan keluarga Kiser?”
Jonah menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. “Biarkan mereka berurusan dengan tagihan bank. Jangan bantu, jangan tekan terlalu keras. Biarkan hukum pasar yang bekerja.”
Keesokan harinya, suasana di kediaman utama keluarga Kiser sangat mencekam. Rama dan Arumi sibuk menghubungi relasi mereka, namun semua pintu seolah tertutup. Sulia terus menggerutu, menyalahkan Jonah atas segala kesialan yang menimpa.
Tiba-tiba, ponsel Ellia berdering. Ia sedang berada di rumah Eyang Kiser saat itu, bersama seluruh anggota keluarga yang sedang panik.
“Halo? Ya, saya Ellia… Dari mana? Manajemen Aset Kencana?” Ellia tertegun. Matanya membelalak saat mendengar suara di seberang telepon. “Termin muka 40%? Untuk proyek Heritage Row? Tapi… bagaimana…”
Cika yang sedang menangis, langsung menoleh tajam. “Apa? Proyek apa? Jangan bilang kamu mau cari selamat sendiri di saat kami semua hancur!”
Margo juga mendekat dengan tatapan curiga. “Mbak Ellia, jangan main-balakang. Kalau kamu dapat proyek, itu harus masuk ke kas keluarga Kiser untuk bayar hutang Metropolis!”
Ellia menjauhkan ponselnya, menatap Margo dengan keberanian yang baru ia temukan. “Ini firma pribadiku, Margo. Dan ini tender tertutup. Mereka meminta profesionalisme, bukan koneksi trah.”
Di pojok ruangan, Jonah yang sedang menyeduh teh untuk mertuanya, Warsi, hanya tersenyum tipis di balik cangkir. Ia melihat istrinya mulai berdiri tegak, perlahan keluar dari bayang-bayang penindasan keluarga Kiser.
Ia tidak butuh pamer bahwa dialah yang mengatur semua itu. Melihat Ellia kembali memiliki harapan adalah otoritas yang jauh lebih berharga daripada pengakuan dunia.

