Bab 6: Celah dalam Keangkuhan
“Sistem yang paling kokoh sekalipun selalu memiliki satu celah kecil. Dan bagi mereka yang sombong, celah itu biasanya terletak pada rasa percaya diri yang berlebihan.”
Kantor pusat keluarga Kiser di kawasan bisnis Jakarta kini tak ubahnya sebuah kapal yang bocor. Pengumuman pembatalan kontrak dari Empyrean Group telah menyebar seperti virus ke telinga para investor dan bank rekanan. Di ruang rapat utama, suasana terasa mencekam. Margo berkali-kali membanting ponselnya ke meja, sementara Cika hanya bisa terisak di pojok ruangan.
“Bagaimana mungkin Bank Nusantara menagih bunga pinjaman secara serentak hari ini?” teriak Margo kepada akuntan keluarga. “Kita punya waktu hingga akhir bulan!”
“Sistem mereka mengalami pembaruan kebijakan secara mendadak, Pak,” jawab sang akuntan dengan suara gemetar. “Mereka bilang ini adalah bagian dari audit risiko otomatis.”
Margo tidak tahu bahwa “audit otomatis” itu adalah hasil dari satu baris skrip yang dikirimkan Jonah melalui akses pintu belakang (backdoor) yang ia tanam di server perbankan bertahun-tahun lalu. Baginya, menghancurkan arus kas musuh jauh lebih efektif daripada menyerang fisik mereka.
Di rumahnya, Jonah sedang duduk di depan laptop tua dengan layar yang dipenuhi baris kode terminal. Ia tidak terlihat seperti pewaris keluarga Abraham; ia hanya terlihat seperti seorang spesialis IT yang sedang lembur.
Ellia masuk ke kamar dengan wajah yang jauh lebih cerah dari kemarin. “Jonah, kamu tidak akan percaya. Pihak Manajemen Aset Kencana baru saja mengirimkan draf kontrak proyek Heritage Row. Mereka benar-benar serius dengan uang muka 40 persen itu.”
Jonah menutup laptopnya pelan. “Bagus kalau begitu, El. Mungkin keberuntunganmu memang sedang kembali.”
“Tapi ada satu masalah,” Ellia duduk di tepi tempat tidur, raut wajahnya kembali ragu. “Margo baru saja menelepon. Dia menuntut agar seluruh uang muka itu disetorkan ke rekening utama keluarga Kiser untuk menalangi hutang Bank Nusantara. Dia mengancam akan mengeluarkan aku dari silsilah keluarga jika aku menolak.”
Jonah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. “Dia tidak punya otoritas untuk itu, El. Kontrak itu atas namamu, bukan atas nama trah Kiser. Katakan padanya, jika dia ingin uang itu, dia harus datang sendiri ke firma kecilmu dan meminta maaf secara resmi.”
“Meminta maaf? Margo tidak akan pernah melakukan itu!” seru Ellia.
“Kita lihat saja seberapa keras kepalanya dia saat debt collector mulai mengetuk pintu rumahnya besok pagi,” ucap Jonah tenang.
Keesokan harinya, tekanan pada keluarga Kiser mencapai puncaknya. Bukan karena kekerasan, melainkan karena efisiensi sistem yang bekerja melawan mereka. Satu per satu kartu kredit anggota keluarga diblokir. Mobil-mobil operasional perusahaan mulai ditarik oleh pihak leasing karena keterlambatan administratif yang “sengaja” diciptakan oleh algoritma Jonah.
Margo, yang biasanya sombong dengan jam tangan mewahnya, kini merasa terpojok. Ia melihat Eyang Kiser jatuh sakit karena syok, dan satu-satunya harapan untuk menyelamatkan nama besar keluarga adalah uang muka dari proyek Ellia.
Dengan langkah gontai dan hati yang dipenuhi dendam, Margo akhirnya mendatangi kantor kecil Ellia di pinggiran kota. Ia terkejut melihat Jonah ada di sana, sedang memperbaiki salah satu kabel jaringan di sudut ruangan.
“Ellia! Cepat berikan dana itu!” Margo berteriak saat masuk, mencoba mempertahankan sisa keangkuhannya.
Jonah berdiri, merapikan lengan batiknya. “Margo, sepertinya kamu lupa prosedur dasar. Di kantor ini, kamu adalah tamu. Dan tamu yang tidak sopan tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
“Kau tutup mulut, sampah IT!” bentak Margo.
“Sampah ini yang memastikan AC di rumahmu masih menyala pagi ini, Margo,” Jonah berkata dengan nada datar yang mengerikan. “Satu kata hinaan lagi, dan aku akan memastikan namamu masuk ke dalam daftar hitam kredit nasional. Kamu tahu betapa mudahnya bagi ‘ahli sistem’ sepertiku untuk melakukan itu, bukan?”
Margo terdiam. Ia melihat kilat di mata Jonah—sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu bukan tatapan seorang menantu yang tertindas, melainkan tatapan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya di dalam sangkar.

