Otoritas Jonah – Bab 7

Bab 7: Firewall Kehormatan

“Keamanan terbaik bukanlah dinding yang tebal atau gembok yang kuat, melainkan rasa hormat. Karena saat kau kehilangan martabat di mata orang lain, tidak ada firewall di dunia ini yang bisa melindungi hidupmu dari kehancuran.”

Margo berdiri terpaku di tengah kantor kecil Ellia yang dingin. Kata-kata Jonah tentang blacklist nasional bukan sekadar gertakan di telinganya. Sebagai orang yang terbiasa hidup dengan fasilitas kredit dan perputaran uang bank, Margo tahu bahwa di dunia modern, kehilangan reputasi digital sama saja dengan kematian perdata.

“Kau… kau pikir aku takut?” suara Margo bergetar, mencoba menutupi kegentarannya. “Kau hanya tukang servis komputer, Jonah! Jangan merasa punya kuasa sebesar itu.”

Jonah tidak menjawab. Ia hanya merogoh ponselnya, menekan beberapa tombol dengan gerakan yang sangat efisien, lalu meletakkannya di atas meja. “Dalam sepuluh detik, ponselmu akan menerima notifikasi dari sistem keamanan smart home di rumahmu.”

Sepuluh. Sembilan. Delapan.

Tepat di hitungan ke-nol, ponsel di saku Margo berbunyi nyaring. Sebuah peringatan merah muncul: [CRITICAL] Security Breach Detected. Master Access Revoked.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Margo panik sambil menatap layar ponselnya.

“Aku hanya menunjukkan bahwa pintu depan rumahmu kini terkunci secara permanen bagi siapa pun yang tidak memiliki otorisasi dariku. Dan oh, tagihan listrik serta air rumahmu baru saja masuk ke sistem penagihan paksa karena ‘kesalahan teknis’ pada autodebetmu,” ucap Jonah tenang sembari kembali membenahi kabel jaringan. “Itu adalah contoh kecil dari apa yang bisa dilakukan ‘tukang servis’ ini pada hidupmu yang terlalu bergantung pada sistem.”

Ellia menatap Jonah dengan campuran antara rasa kagum dan ngeri. Ia tidak pernah tahu suaminya memiliki sisi sedingin ini. Namun, ia juga merasa terlindungi. Selama bertahun-tahun, ia melihat Jonah hanya diam menerima hinaan, dan sekarang ia menyadari bahwa diamnya Jonah adalah masa inkubasi dari sebuah rencana besar.

Margo akhirnya jatuh terduduk di kursi tamu yang kusam. Keangkuhannya luruh. “Apa… apa yang kau inginkan?”

“Bukan aku yang menginginkan sesuatu, Margo. Tapi istriku, Ellia,” Jonah menunjuk ke arah Ellia dengan dagunya.

Ellia mengambil napas dalam, berdiri tegak di hadapan sepupunya itu. “Aku ingin kebebasan profesional, Margo. Proyek Heritage Row ini akan kukelola secara mandiri melalui firma kecilku. Tidak ada satu rupiah pun yang akan masuk ke kas trah Kiser untuk menutupi kesalahan manajemenmu.”

“Tapi kita keluarga, Ellia! Eyang bisa terkena serangan jantung kalau tahu kita kehilangan aset ini!” Margo memelas.

“Keluarga tidak saling menginjak untuk bertahan hidup,” jawab Ellia tegas. “Jika kau ingin aku membantu sedikit untuk biaya pengobatan Eyang, aku akan melakukannya. Tapi sebagai bantuan pribadi, bukan sebagai kewajiban perusahaan. Dan satu hal lagi… kau harus meminta maaf pada Jonah. Di sini. Sekarang.”

Margo menoleh ke arah Jonah yang masih sibuk dengan pekerjaannya, seolah-olah percakapan ini tidak lebih penting daripada kabel LAN yang sedang ia pasang. Rasa pahit tertelan di tenggorokan Margo. Meminta maaf pada “benalu” yang selama ini ia injak adalah penghinaan terbesar baginya.

Namun, bayangan akan pintu rumah yang terkunci dan akun bank yang dibekukan membuatnya tak punya pilihan.

“Jonah… aku… aku minta maaf atas ucapanku selama ini,” ucap Margo dengan suara hampir tak terdengar.

Jonah berhenti sejenak, lalu menatap Margo datar. “Aku tidak butuh maafmu, Margo. Aku hanya butuh kau tahu bahwa mulai hari ini, posisi kita telah berubah. Jangan pernah mengusik Ellia lagi, atau aku akan memastikan namamu terhapus dari setiap basis data di negara ini seolah-olah kau tidak pernah lahir.”

Margo keluar dari kantor itu dengan langkah seribu, merasa seolah baru saja lolos dari terkaman predator yang tak terlihat.

Malam itu, setelah kantor sepi, Ellia mendekati Jonah. “Jonah, sejak kapan kamu bisa melakukan semua itu? Mengunci rumah orang dari jarak jauh… itu tidak terdengar seperti servis komputer biasa.”

Jonah tersenyum tipis, lalu mengusap rambut istrinya. “Aku hanya menemukan ‘bug’ di sistem mereka, El. Dunia ini penuh dengan celah, kamu hanya perlu tahu di mana harus menekan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *