BAB 1 — Retakan yang Tidak Terlihat
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Setidaknya… begitulah yang orang-orang pikirkan.
Kota masih ramai.
Kendaraan masih berlalu-lalang.
Orang-orang masih sibuk mengejar sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak yakin apa.
Namun bagi Arka, ada yang terasa… bergeser.
Bukan sesuatu yang bisa dilihat.
Bukan pula sesuatu yang bisa dijelaskan.
Lebih seperti… dunia yang ia kenal selama ini mulai kehilangan “rasa”.
Sudah beberapa hari ini, ia sering terbangun sebelum subuh.
Bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena sunyi.
Sunyi yang terlalu dalam…
seolah dunia lupa untuk bernapas.
Pagi itu, ia berjalan tanpa tujuan.
Langkahnya ringan, tapi pikirannya penuh.
Ia melewati jalan yang sama seperti biasanya.
Warung yang sama.
Wajah-wajah yang sama.
Namun semuanya terasa seperti… salinan.
Seperti sesuatu sedang berjalan… tapi bukan yang asli.
Di sebuah persimpangan kecil, Arka berhenti.
Ia tidak ingat pernah melihat jalan itu sebelumnya.
Padahal ia yakin…
ini bukan pertama kalinya ia melewati daerah ini.
Jalan sempit.
Tanpa papan nama.
Hampir tersembunyi di antara dua bangunan tua.
Entah kenapa—
ia merasa jalan itu… tidak asing.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Seharusnya ia bisa saja lewat.
Mengabaikannya.
Kembali ke rutinitas.
Namun ada sesuatu yang menahan langkahnya.
Bukan rasa penasaran.
Lebih seperti… panggilan yang tidak bersuara.
Arka melangkah masuk.
Beberapa langkah pertama terasa biasa saja.
Tanah lembab.
Udara sedikit lebih dingin.
Namun semakin ia berjalan…
suara kota mulai menghilang.
Tidak perlahan.
Tapi seperti diputus.
Ia berhenti.
Menoleh ke belakang.
Jalan yang tadi ia lewati… masih ada.
Namun terasa jauh.
Terlalu jauh.
“Perasaan gue aja kali…” bisiknya, mencoba menenangkan diri.
Ia melanjutkan langkah.
Lalu ia menyadarinya.
Tidak ada angin.
Daun-daun di atas kepalanya diam.
Terlalu diam.
Arka mengangkat wajah.
Langit masih sama.
Namun entah kenapa… terasa lebih dekat.
Langkahnya melambat.
Ada sesuatu di depan.
Bukan sesuatu yang mencolok.
Justru sebaliknya.
Jika ia tidak memperhatikan… mungkin ia akan melewatinya begitu saja.
Sebuah area terbuka.
Di tengah jalur itu.
Ia mendekat.
Dan saat kakinya melewati batas tak terlihat itu—
sesuatu berubah.
Bukan cahaya.
Bukan suara.
Bukan pula pemandangan.
Tapi rasa.
Udara yang ia hirup terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih… hidup.
Arka membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Ini tempat apa…?”
Ia melihat sekeliling.
Tidak ada yang “aneh”.
Namun justru itu yang membuatnya aneh.
Segalanya… terlalu pas.
Rumput tumbuh tanpa berantakan.
Pohon berdiri tanpa saling berebut ruang.
Cahaya jatuh tanpa menyilaukan.
Tidak ada yang kurang.
Tidak ada yang berlebihan.
Seperti tempat ini…
tidak pernah mengalami kesalahan.
Lalu—
ia melihat mereka.
Dua manusia.
Berdiri tidak jauh darinya.
Arka langsung menahan napas.
Ia tidak siap.
Tidak untuk ini.
Mereka tidak mengenakan apa pun.
Namun tidak ada kegelisahan di antara mereka.
Tidak ada usaha menutupi diri.
Tidak ada rasa malu.
Hanya… keberadaan.
Arka menoleh cepat, jantungnya berdegup.
“Gila… ini apaan…”
Ia memejamkan mata sebentar.
Membukanya kembali.
Mereka masih di sana.
Tidak berubah.
Salah satu dari mereka menoleh.
Perlahan.
Menatap ke arah Arka.
Tatapan itu membuat Arka diam.
Bukan karena tajam.
Bukan karena mengancam.
Tapi karena… kosong dari sesuatu yang selama ini selalu ia temui pada manusia lain.
Tidak ada penilaian.
Tidak ada rasa ingin tahu yang gelisah.
Tidak ada perbandingan.
Seolah ia melihat… tanpa mengartikan.
Arka menelan ludah.
“Kalian… siapa?”
Tidak ada jawaban.
Pria itu melangkah mendekat.
Perlahan.
Tanpa ragu.
Tanpa curiga.
Setiap langkahnya terasa ringan.
Seolah tanah menyambutnya.
Arka mundur setengah langkah.
Refleks.
Namun pria itu berhenti.
Menatapnya.
Lalu—
tersenyum.
Senyum yang tidak meminta apa pun.
Tidak menyembunyikan apa pun.
Tidak bermaksud apa pun.
Hanya… ada.
Dan di saat itu—
Arka merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia merasa… terlihat.
Bukan seperti biasanya.
Bukan sebagai nama.
Bukan sebagai peran.
Bukan sebagai seseorang yang harus menjadi sesuatu.
Tapi… sebagai dirinya yang paling dasar.
Dan anehnya—
itu membuatnya tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya—
Arka menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan.
Bahwa dirinya…
tidak sesederhana itu.
Ia penuh dengan hal-hal yang tidak mereka miliki.
Rasa takut.
Rasa malu.
Rasa bersalah.
Dan di hadapannya—
berdiri manusia…
yang belum mengenal semua itu.
Udara di sekitarnya terasa lebih berat.
Dan di dalam keheningan itu—
untuk pertama kalinya—
Arka berpikir:
jika tempat ini benar-benar awal dari segalanya…
lalu apa yang sedang ia bawa masuk ke dalamnya?

