EDEN: Retakan Pertama – Bab 3

BAB 3 — Pilihan yang Tidak Pernah Ada

Arka tidak segera bergerak.

Ia masih berdiri di tempatnya, menatap pohon itu dari kejauhan.

Tidak ada yang berubah.

Taman tetap tenang.
Udara tetap ringan.
Dua manusia itu tetap berada dalam dunia mereka yang… utuh.

Namun sesuatu dalam diri Arka—

tidak lagi sama.

Ia tahu itu salah.

Ia tidak tahu kenapa.

Tapi ada rasa yang jelas… seperti alarm yang tidak berbunyi, tapi terasa.

“…kau merasakannya…”

Suara itu kembali.

Lebih halus.

Seperti tidak ingin mengganggu.

Arka menghela napas pelan.

“Kau siapa sebenarnya?” tanyanya lirih.

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya jeda…
yang terasa seperti senyuman.

“…aku hanya menunjukkan apa yang sudah ada…”

Arka mengerutkan kening.

“Itu bukan jawaban.”

“…kau tidak butuh jawaban…”

Arka menutup mata sejenak.

Ia tahu percakapan ini tidak normal.

Tidak masuk akal.

Namun justru karena itu… ia tidak bisa mengabaikannya.

Ia membuka mata.

Menatap kembali ke arah dua manusia itu.

Mereka sedang berjalan.

Perlahan.

Saling berdekatan.

Tidak terburu-buru.

Tidak mencari apa pun.

Seolah hidup… tidak memiliki arah yang harus dikejar.

Dan lagi-lagi—

pikiran itu muncul.

Bagaimana rasanya… hidup tanpa beban seperti itu?

Arka mengepalkan tangannya pelan.

“Berhenti…” bisiknya.

“…mereka tidak tahu…”

Suara itu kembali.

“…tidak tahu kehilangan…”

Arka menelan ludah.

“…tidak tahu salah…”

Ia menutup mata lagi.

Namun kali ini—

ia tidak berusaha mengusirnya.

Karena sebagian dari dirinya… mendengarkan.

“…tidak tahu apa yang bisa mereka jadi…”

Arka membuka mata.

Tatapannya berubah.

“Kau mau aku melakukan sesuatu.”

Keheningan.

Lalu—

“…aku tidak memaksa…”

Arka tertawa kecil. Kering.

“Ya. Tentu saja.”

Matanya kembali ke pohon itu.

Pohon yang sama.

Namun sekarang… terasa lebih dekat.

Ia tidak ingat berjalan.

Namun jaraknya sudah berkurang.

Arka berhenti.

Menatap buah yang tergantung di sana.

Bentuknya sederhana.

Tidak bercahaya.

Tidak istimewa.

Namun… sulit untuk diabaikan.

“…itu bukan tentang buahnya…”

Suara itu hampir seperti napas.

“…itu tentang apa yang datang setelahnya…”

Arka menatap buah itu lebih lama.

Ia tahu.

Ia tidak tahu bagaimana—

tapi ia tahu.

Ini bukan sekadar sesuatu yang dimakan.

Ini adalah sesuatu yang… mengubah.

Ia menoleh.

Dua manusia itu masih tidak jauh.

Mereka belum melihat pohon itu.

Belum mendekat.

Belum tahu.

Dan untuk pertama kalinya—

Arka menyadari sesuatu yang lebih dalam.

Mereka tidak pernah diberi pilihan.

Bukan karena dilarang.

Tapi karena… mereka tidak tahu bahwa pilihan itu ada.

Arka menarik napas panjang.

Dadanya terasa berat.

“Kau ingin aku…” ia berhenti.

“…menunjukkan…”

Kalimat itu selesai dengan sendirinya.

Arka terdiam.

Ia bukan bagian dari dunia ini.

Ia tahu itu.

Namun ia ada di sini.

Melihat.

Mengerti.

Dan sekarang—

ia bisa melakukan sesuatu.

Itu yang membuatnya takut.

Karena untuk pertama kalinya—

ia bukan hanya saksi.

Ia adalah kemungkinan.

Angin tipis tiba-tiba bergerak.

Daun-daun di atas pohon bergetar pelan.

Suara kecil.

Hampir seperti bisikan.

Arka mengangkat tangan.

Berhenti di udara.

Jaraknya tinggal sedikit lagi.

Ia bisa menyentuhnya.

Ia bisa mengubah semuanya.

Ia bisa—

“Arka.”

Suara itu bukan dari dalam kepalanya.

Arka tersentak.

Tangannya berhenti.

Ia menoleh cepat.

Dua manusia itu berdiri tidak jauh darinya.

Wanita itu menatapnya.

Berbeda dari sebelumnya.

Masih tenang.

Masih damai.

Namun kali ini—

ada sesuatu yang baru.

Bukan penilaian.

Bukan ketakutan.

Tapi… perhatian.

Dan untuk pertama kalinya—

Arka merasa…

ia tidak sendirian dalam kesadaran itu.

Jantungnya berdetak keras.

“Dia… memanggil namaku…”

Suara di kepalanya—

tidak muncul.

Keheningan kembali.

Namun bukan keheningan yang sama.

Sekarang—

ada sesuatu yang berubah.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat dunia ini…

tidak lagi sepenuhnya utuh.

Dan Arka—

masih berdiri di antara dua hal:

Yang belum pernah tahu…

dan yang sudah mulai sadar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *