EDEN: Prolog

PROLOG — Yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Pada awalnya…
tidak ada yang salah.
Segalanya berjalan sebagaimana mestinya.
Manusia hidup.
Dunia berputar.
Waktu bergerak… tanpa pernah berhenti.
Dan taman itu—
tetap ada.
Ia tidak hilang.
Tidak hancur.
Tidak pula dilupakan sepenuhnya.
Ia hanya… dipisahkan.
Sejak hari ketika manusia pertama kali memilih sesuatu yang belum pernah mereka mengerti,
sebuah batas dibentuk.
Bukan tembok.
Bukan pintu.
Lebih seperti… jarak yang tidak bisa ditempuh.
Manusia berjalan menjauh.
Tanpa menyadarinya.
Hari demi hari.
Generasi demi generasi.
Dan semakin jauh mereka pergi—
semakin samar ingatan itu.
Tentang tempat
di mana tidak ada rasa takut.
Tentang hari
di mana tidak ada yang perlu disembunyikan.
Tentang hidup
yang tidak pernah bertanya: “apa yang akan terjadi nanti?”
Namun sesuatu yang aneh terjadi pada ingatan.
Ia tidak selalu hilang.
Kadang—
ia berubah bentuk.
Menjadi cerita.
Menjadi legenda.
Menjadi sesuatu yang terdengar terlalu indah… untuk dianggap nyata.
Dan manusia…
melanjutkan hidup mereka.
Mereka membangun.
Menghancurkan.
Mencari.
Dan kehilangan.
Mereka menciptakan makna…
lalu mempertanyakannya.
Namun jauh di dalam semua itu—
ada sesuatu yang perlahan berubah.
Bukan dunia yang terlihat.
Tapi… yang menopangnya.
Seperti kain tua yang mulai menipis.
Seperti dinding yang retaknya tidak terlihat… sampai akhirnya terlambat.
Tidak ada yang langsung menyadarinya.
Tidak ada alarm.
Tidak ada peringatan.
Hanya perasaan halus—
bahwa sesuatu… tidak lagi seperti dulu.
Dan ketika dunia mulai kehilangan arah—
ketika manusia tidak lagi tahu apa yang mereka cari—
ketika segala sesuatu berjalan… tapi terasa kosong—
batas itu…
mulai melemah.
Bukan karena dilanggar.
Bukan karena dibuka.
Tapi karena…
tidak lagi cukup kuat untuk tetap tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak sangat lama—
sesuatu dari sisi yang lain…
mulai terlihat.
Bukan oleh semua orang.
Hanya oleh mereka…
yang masih cukup diam untuk merasakannya.
Hanya oleh mereka…
yang belum sepenuhnya tenggelam.
Dan di antara mereka—
ada satu orang…
yang tidak sedang mencari apa pun.
Namun justru—
akan menemukan sesuatu
yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditemukan kembali.
Sebuah taman.
Sebuah awal.
Dan sebuah pilihan…
yang seharusnya tidak pernah ada lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *