Di dalam ruang rapat utama Empyrean Group, ketegangan bisa dirasakan hingga ke sela-sela lantai granitnya. Eyang Kiser duduk di kursi tengah, diapit oleh Margo dan Cika yang wajahnya masih memerah karena emosi setelah melihat Jonah di lobi tadi.
Noa duduk di hadapan mereka. Di depannya tergeletak sebuah map hitam tebal dengan logo Empyrean yang tercetak timbul—simbol otoritas yang sedang dinanti-nantikan keluarga Kiser untuk menyelamatkan martabat mereka yang mulai retak.
Bab 4: Gema Keputusan
“Kehancuran sebuah dinasti jarang dimulai dari serangan luar yang besar. Sering kali, ia bermula dari satu keputusan dingin di balik pintu tertutup, di mana mereka yang merasa tak tersentuh menyadari bahwa dunia tidak lagi berputar sesuai keinginan mereka.”
“Ibu Noa,” Eyang Kiser memulai dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang namun penuh hormat. “Kami sangat menghargai undangan ini. Proyek Metropolis Signature adalah warisan yang kami siapkan untuk masa depan trah Kiser. Kami yakin kerjasama ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi kedua belah pihak.”
Margo menimpali dengan senyum lebar, “Benar, Ibu Noa. Kami telah menyiapkan segala sumber daya terbaik. Tidak akan ada kendala, kecuali gangguan kecil dari orang-orang tak berkompeten seperti yang Ibu lihat di depan tadi. Saya pastikan dia tidak akan menginjakkan kaki di gedung ini lagi.”
Noa tidak tersenyum. Ia hanya membuka map hitam itu perlahan, lalu menatap satu per satu wajah anggota keluarga Kiser.
“Keluarga Kiser,” suara Noa datar, namun setiap katanya terasa seperti jatuhnya palu hakim. “Setelah melakukan evaluasi mendalam terhadap struktur kepemilikan dan integritas mitra kerja kami dalam dua belas jam terakhir, Empyrean Group memutuskan untuk mengambil langkah drastis.”
Jantung Margo berdegup kencang. “Langkah… drastis maksudnya?”
Noa menggeser sebuah dokumen ke tengah meja. “Kami membatalkan seluruh kontrak kerjasama untuk proyek Metropolis Signature. Efektif mulai detik ini.”
Ruangan itu mendadak senyap. Udara seolah tersedot keluar. Eyang Kiser terpaku, tangannya yang memegang tongkat kayu cendana mulai gemetar.
“Batal? Tapi… Ibu Noa, kita sudah mencapai kesepakatan lisan! Kami sudah menginvestasikan hampir seluruh aset lancar kami untuk persiapan lahan!” suara Eyang Kiser melengking tipis, penuh kepanikan.
“Kontrak lisan tidak memiliki nilai sejarah dalam protokol kami jika integritas mitra diragukan,” jawab Noa dingin. “Kami menemukan bahwa keluarga Kiser memiliki kecenderungan merendahkan martabat individu yang justru memiliki potensi besar. Bagi Empyrean, karakter mitra adalah fondasi utama. Jika Anda bisa memperlakukan keluarga sendiri seperti sampah di tempat umum, bagaimana kami bisa percaya Anda tidak akan mengkhianati kami di masa depan?”
Margo berdiri, wajahnya pucat pasi. “Ini pasti salah paham! Ini pasti gara-gara si bangsat Jonah itu, kan? Dia membisikkan fitnah pada staf Anda? Ibu Noa, dia itu hanya benalu! Jangan dengarkan dia!”
“Cukup, Margo!” bentak Noa. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Margo terduduk kembali. “Keputusan ini bukan karena bisikan siapa pun. Ini adalah instruksi langsung dari pemilik otoritas tertinggi Empyrean Group. Beliau merasa trah Kiser tidak cukup pantas untuk bersanding dengan visi kami.”
Cika mulai terisak kecil. “Tapi Ibu Noa… jika kontrak ini batal, keluarga kami akan hancur secara finansial. Semua aset kami sudah digadaikan untuk modal awal…”
Noa berdiri, menutup map hitamnya dengan dentuman pelan namun final. “Itu bukan urusan kami. Silakan tinggalkan gedung ini dalam sepuluh menit, atau keamanan akan mengawal Anda keluar dengan cara yang sama seperti Anda ingin mengusir tamu di lobi tadi.”
Di sudut ruangan, di balik kaca satu arah yang menghadap ke ruang rapat, Jonah berdiri bersedekap. Ia menyaksikan kehancuran di wajah Eyang Kiser dan kepanikan di mata Margo. Tidak ada rasa puas yang meledak-ledak; yang ada hanyalah rasa dingin yang tenang.
Ia merogoh ponselnya, lalu mengirim pesan singkat kepada Tobias Mutta.
“Tahap pertama selesai. Sekarang, pastikan bank-bank rekanan mulai menagih bunga pinjaman mereka kepada keluarga Kiser secara serentak besok siang.”
Jonah berbalik, berjalan meninggalkan ruangan rahasia itu melalui pintu khusus. Saat ia melangkah keluar menuju lobi, ia melihat keluarga Kiser keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai, seolah-olah tulang punggung mereka baru saja dipatahkan.
Saat Margo melihat Jonah masih berdiri di dekat lift, ia berlari mendekat dengan sisa-sisa kemarahan yang putus asa. “KAU! Apa yang kau lakukan?! Kau menyabotase kami, kan?!”
Jonah menatap Margo dengan mata yang begitu jernih namun mematikan. “Aku tidak melakukan apa-apa, Margo. Aku hanya membiarkan istana pasirmu bertemu dengan ombaknya sendiri.”
“Kau akan membayar ini, Jonah! Aku akan memastikan kau dan Ellia membusuk di jalanan!” teriak Margo kalap.
Jonah hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang memiliki nilai sejarah gelap bagi siapa pun yang pernah menjadi musuhnya. “Simpan suaramu, Margo. Kamu akan membutuhkannya untuk memohon nanti.”

