Di dalam sedan hitam yang kedap suara, suasana begitu hening. Jonah menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang lembut, menatap rintik hujan yang meluncur di kaca jendela. Di tangan, kartu titanium hitam itu terasa dingin—sebuah kunci untuk meruntuhkan kesombongan yang baru saja mencabik-cabik harga dirinya.
“Tuan Muda,” suara Tobias Mutta memecah kesunyian. “Kita akan langsung ke Rumah Sakit Medika Prima. Dr. Muria sudah saya hubungi. Beliau adalah ahli bedah terbaik yang kita miliki, dan saat ini dia sudah berada di lokasi untuk menangani Ibu Suri .”
Jonah hanya mengangguk pelan. “Terima kasih, Tobias. Pastikan dia mendapatkan perawatan paling eksklusif. Sejarah hutangnya.”
Bab 3: Takhta yang Tersembunyi
“Istana pasir memang tampak megah di bawah sinar matahari, hingga pasang air datang menjemputnya. Hari ini mereka merayakan kemenangan semu, tanpa sadar bahwa fondasi mereka dibangun di atas tanah milik pria yang baru saja mereka usir.”
Rumah Sakit Medika Prima tampak tenang di tengah keramaian-pikuk Jakarta. Begitu mobil berhenti, seorang pria paruh baya dengan jas putih bersih sudah menunggu di lobi VIP. Itu adalah Dr.Muria . Ia segera membungkuk hormat saat melihat Jonah turun dari mobil yang dikawal oleh Tobias Mutta.
“Tuan Jonah, suatu kehormatan,” ucap Dr. Muria dengan nada rendah. “Pasien sudah kami pindahkan ke unit perawatan intensif tertinggi. Operasi akan segera dilakukan dengan tim terbaik. Anda tidak perlu meremehkan nilai kelangkaan obat-obatan atau peralatan yang dibutuhkan; semuanya sudah tersedia.”
Jonah menatap Dr. Muria dengan saksama. “Lakukan yang terbaik, Dok. Saya tidak butuh janji, saya butuh hasil.”
Setelah memastikan semua urusan medis terkendali, Jonah melangkah ke sudut koridor yang sepi. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi Ellia . Dia tahu istrinya pasti sedang dalam tekanan hebat di Hotel Mulia.
“Ellia,” ucap Jonah saat panggilan diangkat.
“Jonah! Kamu di mana? Maafkan ucapan Margo dan Cika tadi… Aku masih mencoba bicara dengan Eyang, tapi dia sangat marah karena kamu meminta uang di depan tamu-tamu penting,” suara Ellia terdengar parau, seperti baru saja menahan tangis.
Hati Jonah berdenyut perih. “Jangan minta maaf, El. Kamu tidak salah. Aku sudah di rumah sakit, urusan biaya sudah ada jalan keluarnya. Kamu pulanglah, istirahat.”
“Tapi, Jonah… dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?”
“Ada teman lama yang membantu. Nanti aku jelaskan. Pulanglah, El.”
Setelah menutup telepon, Jonah melihat Tobias Mutta mendekat dengan sebuah tablet di tangannya.
“Tuan Muda, ini adalah data yang Anda minta. Keluarga Kiser saat ini sedang menggantungkan seluruh napas bisnis mereka pada proyek Metropolis Signature . Mereka telah mengeluarkan hampir seluruh aset lancar mereka di sana. Dan siapa penyedia dana serta kontraktor utamanya? Empyrean Group .”
Jonah melihat diagram di layar tersebut. Senyum tipis—dingin dan tajam—muncul di wajahnya. “Jadi, mereka sedang membangun istana di atas tanah milikku?”
“Benar, Tuan Muda. Besok pagi, Noa telah menjadwalkan pertemuan di kantor pusat Empyrean untuk penandatanganan addendum kontrak final. Keluarga Kiser sangat berharap proyek ini segera berjalan agar likuiditas mereka pulih.”
Jonah mengembalikan tablet itu. “Besok pagi, aku juga akan ke siapa sana. Tapi jangan beri tahu siapa pun aku yang sebenarnya. Biarkan Noa yang memimpin pertemuan itu. Aku ingin melihat seberapa tinggi mereka akan mendongak sebelum aku menghempaskan mereka ke tanah.”
Pagi berikutnya, di kantor pusat Empyrean Group yang menjulang tinggi di kawasan SCBD, suasana sangat tegang. Eyang Kiser , didampingi oleh Margo dan Cika , duduk di ruang tunggu eksekutif dengan wajah penuh harap.
Margo tampak sangat bersemangat. Ia mengenakan jam tangan Rolex seri sejarah yang paling ia banggakan. “Eyang, begitu kontrak ini ditandatangani, keluarga Kiser akan masuk ke jajaran elite pebisnis nasional. Keluarga Sanjaya bahkan tidak akan berani meremehkan kita lagi.”
Cika mengangguk setuju sambil memoles lipstiknya di depan cermin kecil. “Benar, Eyang. Dan yang paling penting, kita tidak perlu lagi melihat wajah pengemis seperti Jonah. Setelah proyek jalan ini, aku akan mendesak Mbak Ellia untuk menceraikannya.”
Tepat pada saat itu, pintu lift terbuka. Jonah melangkah keluar dengan pakaian yang sama sederhananya dalam semalam—batik pudar yang terlihat sangat asing di gedung berlapis kaca dan baja itu.
“Jonah?!” peik Cika, suaranya melengking tajam hingga membuat beberapa staf menoleh. “Mau apa kamu di sini?! Apa kamu membuntuti kami sampai ke Empyrean hanya untuk meminta uang lagi?!”
Margo berdiri, wajahnya merah padam karena amarah. “Benar-benar tidak tahu malu! Keamanan! Keamanan! Kenapa gelandangan ini bisa masuk ke lantai eksekutif?!”
Jonah berdiri dengan tenang di depan mereka, kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia menatap Margo dengan pandangan yang membuat pria angkuh itu tiba-tiba merasa merinding tanpa alasan.
“Aku hanya ingin melihat,” ucap Jonah datar. “Seberapa kuatnya fondasi istana yang sedang kalian banggakan ini.”
“Istana kami sangat kuat, sampah!” bentak Margo. “Dan kamu akan melihatnya dari selokan tempatmu berasal!”
Tiba-tiba, pintu ruangan direktur terbuka. Seorang wanita cantik dengan pengaturan bisnis yang sangat elegan melangkah keluar. Ia adalah Noa , direktur operasional yang disegani di seluruh Jakarta.
“Apakah ada yang dimaksud dengan apa di sini?” tanya Noa dengan nada dingin yang langsung membungkam Margo.
Eyang Kiser segera berdiri, menunjukkan senyum paling sopannya. “Selamat pagi, Ibu Noa. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pria ini… dia hanyalah mantan anggota keluarga yang tidak tahu aturan dan mencoba mengganggu pertemuan kita.”
Noa melirik Jonah sekilas—sebuah pandangan rahasia yang penuh dengan rasa hormat yang terpendam—sebelum kembali menatap Eyang Kiser.
“Pertemuan ini tidak akan terganggu olehnya,” ucap Noa tenang. “Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan terkait kontrak proyek Metropolis Signature kalian.”
Jonah berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dengan diam saat Noa mempersilakan keluarga Kiser masuk ke ruang rapat. Dia tahu, di dalam ruangan itu, sejarah keluarga Kiser akan berubah selamanya.

