BAB 2 — Suara yang Tidak Terlihat
Arka tidak bergerak.
Ia masih berdiri di tempatnya, menatap dua manusia di hadapannya.
Segalanya terasa… terlalu tenang.
Tidak ada suara langkah tergesa.
Tidak ada bisikan angin.
Bahkan detak jantungnya sendiri terasa seperti sesuatu yang mengganggu kesunyian ini.
Pria itu masih berdiri di depannya.
Tatapannya tidak berubah.
Masih sama.
Tenang.
Tanpa beban.
Tanpa pertanyaan.
Arka mengusap wajahnya pelan.
“Ini nggak masuk akal…” gumamnya.
Ia menoleh ke sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang familiar.
Sesuatu yang bisa ia jelaskan.
Namun semakin ia melihat—
semakin ia merasa…
ia adalah satu-satunya hal yang tidak seharusnya ada di tempat ini.
Lalu—
sesuatu berubah.
Bukan di luar.
Tapi… di dalam kepalanya.
Sebuah suara.
Tidak keras.
Tidak jelas.
Tapi ada.
“…kau tidak berasal dari sini…”
Arka membeku.
Matanya langsung mencari sumbernya.
“K… siapa?” bisiknya.
Tidak ada siapa-siapa.
Pria dan wanita itu masih berdiri seperti sebelumnya.
Tidak bereaksi.
Seolah mereka tidak mendengar apa pun.
“…dan mereka tidak tahu…”
Suara itu kembali.
Lebih jelas sekarang.
Namun tetap… tidak datang dari arah mana pun.
Arka menelan ludah.
“Apa maksudnya?”
Tidak ada jawaban langsung.
Hanya keheningan…
yang terasa seperti sedang menunggu sesuatu.
Pria di depannya melangkah lagi.
Mendekat.
Wajahnya tetap sama—damai, tanpa beban.
Dan tiba-tiba—
Arka menyadari sesuatu.
Pria itu tidak tahu apa-apa.
Bukan tidak pintar.
Bukan tidak sadar.
Tapi… belum pernah diajarkan untuk meragukan.
“…mereka tidak tahu apa yang baik…”
Suara itu kembali.
Kali ini lebih dekat.
Seolah… tepat di samping telinganya.
“…dan tidak tahu apa yang buruk…”
Arka memejamkan mata.
“Berhenti…” bisiknya pelan.
Ia tidak tahu kenapa.
Tapi ada sesuatu dari suara itu… yang membuatnya tidak nyaman.
Namun suara itu tidak berhenti.
“…kau tahu…”
Arka membuka mata.
“…kau berbeda…”
Jantungnya berdegup lebih keras.
“…kau bisa melihat apa yang tidak mereka lihat…”
Arka menggeleng pelan.
“Ini cuma halusinasi…”
Namun kata-katanya sendiri terasa lemah.
Ia menatap pria di depannya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar memperhatikan.
Cara pria itu berdiri.
Cara ia menatap.
Cara ia tersenyum.
Tidak ada beban.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada rasa bersalah.
Kosong…
tapi damai.
Dan tanpa ia sadari—
sebuah pikiran muncul di benaknya.
Bagaimana rasanya… hidup tanpa semua itu?
Arka terdiam.
Suara itu tidak perlu berkata apa-apa lagi.
Karena sekarang—
Arka sendiri yang mulai bertanya.
“…kau bisa menunjukkan pada mereka…”
Kalimat itu muncul pelan.
Hampir seperti pikirannya sendiri.
Arka mengerutkan kening.
“Menunjukkan apa?”
Tidak ada jawaban.
Namun matanya… tanpa sadar… bergerak.
Ke arah sebuah pohon.
Pohon itu tidak seperti yang lain.
Tidak lebih besar.
Tidak lebih mencolok.
Namun… terasa berbeda.
Seolah seluruh taman ini… bernafas melaluinya.
Di antara dedaunannya—
tergantung buah.
Sederhana.
Namun entah kenapa…
sulit untuk tidak melihatnya.
Arka menelan ludah.
Ia tidak tahu kenapa—
tapi ada sesuatu dalam dirinya yang… tertarik.
“…kau tahu apa itu…”
Suara itu kembali.
Lebih lembut sekarang.
Arka menggeleng.
“Tidak…”
Namun jauh di dalam dirinya—
ada sesuatu yang berkata sebaliknya.
Ia tahu.
Bukan karena pernah melihatnya.
Tapi karena… ia mengerti.
Itu bukan sekadar buah.
Itu adalah…
pilihan.
Arka menatap dua manusia di hadapannya.
Mereka tidak melihat ke arah pohon itu.
Tidak tertarik.
Tidak sadar.
Seolah pilihan itu…
tidak pernah ada bagi mereka.
Dan untuk pertama kalinya—
Arka merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan takut.
Bukan bingung.
Tapi… kuasa.
Ia tahu sesuatu yang mereka tidak tahu.
Dan di antara keheningan taman itu—
sebuah pertanyaan muncul…
pelan… tapi tajam.
Apa yang akan terjadi… jika mereka tahu?

