Bab 1: Perjamuan Emas yang Dingin
Jakarta malam itu sedang diguyur hujan rintik, namun panasnya aspal ibu kota seolah tak mampu meredam kemegahan Hotel Mulia. Di dalam Grand Ballroom yang diterangi lampu kristal yang disusun menyerupai aliran udara, keluarga besar Kiser sedang berkumpul. Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen fine bone china menciptakan simfoni kemakmuran yang teratur, sangat kontras dengan kepadatan pikuk di luar sana.
Di sudut meja utama, Jonah duduk dengan punggung tegak, namun tangannya nyaman di bawah meja. Ia mengenakan batik tulis sogan bermotif Parang Rusak yang warnanya mulai memudar di bagian siku—sebuah detail yang tampak sangat mencolok di tengah jas pesanan khusus untuk pria lain di ruangan itu. Di dekatnya, Ellia memegang jemari Jonah pelan. Sebuah gestur perlindungan yang tulus, namun di mata keluarga besar Kiser, itu hanyalah bukti betapa Ellia terlalu “menjaga” suami yang tidak memiliki bobot derajat.
Acara inti dimulai. Satu per satu anggota keluarga maju memberikan kado kepada Eyang Kiser , wanita tua yang duduk di kursi ukiran jati mahoni yang memiliki sejarah sebagai properti keraton di masa lampau.
“Eyang,” suara Cika memecah keheningan dengan nada yang sengaja ditinggikan agar terdengar ke meja-meja sebelah. ” Sanjaya mempersembahkan keris pusaka Kyai Gupala ini sebagai simbol perlindungan untuk Eyang. Ini adalah keris asli peninggalan era Mataram Islam dengan pamor yang sangat langka, bukan barang koleksi pasar biasa.”
Eyang Kiser tersenyum tipis, sebuah restu yang memiliki nilai sosial sangat tinggi bagi keluarga tersebut. Namun, muncullah wanita tua itu kemudian beralih, melewati Cika, dan mendarat tepat di Jonah. Dingin dan penuh selidik.
“Lalu kamu, Jonah?” tanya Eyang dengan suara rendah namun berwibawa. “Sebagai cucu tertua, apa yang ingin kamu sampaikan di hari lahirku?”
Seluruh ruangan tiba-tiba senyap. Jonah menelan ludah. Pikirannya melayang pada Ibu Suri , pengasuhnya di panti asuhan yang kini sedang berjuang di ruang ICU sebuah rumah sakit pinggiran. Di saku celananya, ponsel lamanya bergetar sekali—sebuah sistem notifikasi yang hanya ia yang tahu maknanya. Namun, Jonah tidak peduli pada baris kode itu sekarang. Saya butuh bantuan nyata.
Jonah berdiri, membuat kursinya sedikit berderit di lantai marmer. “Eyang… saya tidak membawa barang dengan nilai sejarah tinggi malam ini. Saya datang untuk memohon belas kasihan. Ibu angkat saya sedang kritis, dan saya memerlukan bantuan dana dari yayasan keluarga untuk biaya operasinya.”
Keheningan yang tadinya menghormati, kini berubah menjadi sikap acuh tak acuh yang menghina.
Sulia , ibu mertua Jonah, langsung menutup wajahnya dengan kipas sutra, merasa martabatnya jatuh ke titik nadir. Sedangkan Warsi , ayah mertua Jonah, hanya menunduk ke dalam, terlalu takut untuk bersuara.
Cika tidak membiarkan momen ini berlalu. Ia memancarkan sinis, tawanya meledak kecil namun tajam. “Mbak Ellia, lihat dong kualitas suamimu itu. Benar-benar tidak tahu tempat. Aku dan Sanjaya baru saja memberikan pusaka yang sejarahnya ratusan tahun, lalu suamimu? Di acara semegah ini, dia bukannya membawa upeti, malah mau mengemis bantuan uang pada Eyang! Memangnya trah Kiser ini badan amal?”
Sanjaya , yang duduk di sebelah Cika, membetulkan letak jam tangan Patek Philippe langkanya sambil menatap Jonah dengan pandangan tegas. “Betul sekali. Jonah, kita ini sama-sama menantu di keluarga Kiser. Tapi kamu, sebagai menantu laki-laki tertua, benar-benar tidak ada harganya. Kamu gagal menjaga marwah keluarga.”
Seorang pemuda di ujung meja membentak keras, terdengar menggema di ballroom langit-langit yang tinggi. Itu adalah Margo , kakak laki-laki Cika.
“Sudah, jangan kasih panggung buat benalu ini! Ayah, lihat anak buahmu ini,” ujar Margo sambil melirik ayahnya, Rama , yang duduk dengan angkuh bersama istrinya, Arumi .
“Jonah, kalau kamu punya harga diri, carilah uang dengan keringatmu sendiri. Jangan mempermalukan Ellia dan nama besar Kiser dengan cara mengemis di depan tamu kehormatan. Keluar kamu sekarang sebelum keamanan hotel menyeretmu!”
Jonah menarik napas panjang, menatap satu per satu wajah yang dipenuhi rasa benci tersebut. Ia tidak marah, ia hanya merasa dingin. Di dalam kepalanya, sebuah protokol yang telah lama ia kubur mulai aktif kembali secara perlahan.
“Di aula yang penuh dengan kilau kristal dan wangi cendana, mereka sibuk menghitung nilai sejarah pada sebuah keris pusaka. Mereka lupa bahwa sejarah yang paling nyata sedang berdiri di hadapan mereka—terluka, terhina, namun tetap tegak menanti badai.”

