Otoritas Jonah – Bab 2

Bab 2: Badai di Gerbang Senayan


“Hormat yang paling tulus tidak ditemukan di dalam ballroom yang penuh kepalsuan, melainkan di pinggir jalan yang basah, di mana sebuah kartu titanium menjadi Saksi bahwa sang penguasa telah kembali ke takhtanya.”

Langkah Jonah terasa berat saat ia menuruni undakan megah Hotel Mulia. Di belakangnya, pintu kaca besar itu tertutup rapat, meredam sisa-sisa tawa sinis Cika dan terjadi menghakimi Margo . Dunia di dalam sana penuh dengan cahaya lampu kristal dan aroma kemapuan, sementara di luar sini, Jonah hanya disambut oleh angin malam yang membawa aroma aspal basah dan sisa pembakaran mesin kota.

Hujan rintik di Senayan mulai menderas. Jonah berdiri di selasar, merogoh saku batik pudarnya. Ia mengeluarkan ponsel dengan layar retak yang seolah-olah mewakili kehidupan saat ini. Di layar itu, sebuah nomor yang telah diblokir selama bertahun-tahun muncul kembali. Bukan dalam bentuk panggilan, melainkan baris kode enkripsi yang bergerak cepat di baris notifikasi.

Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena dia tahu, sekali dia menyentuh layar itu, Jonah yang selama ini “mati” akan terbangun kembali.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam panjang membelah hujan, berhenti tepat di depan selasar valet. Mobil itu tidak memiliki emblem mewah yang mencolok, namun bentuknya yang klasik dan material baja yang kokoh memancarkan nilai sejarah yang hanya dipahami oleh para kolektor tingkat tinggi.

Seorang pria tua turun dari kursi belakang. Meski usianya sudah senja, puncak tegak lurus. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan potongan yang sangat presisi. Pria itu mengabaikan payung yang tidak berbau petugas hotel dan langsung melangkah menuju Jonah.

Ia adalah Tobias Mutta .

“Tuan Muda,” suara Tobias terdengar dalam, bergetar oleh emosi yang tertahan. Ia membungkuk sangat rendah—sebuah penghormatan yang begitu dalam hingga kepalanya hampir sejajar dengan pinggang Jonah.

Petugas valet yang berdiri tak jauh dari sana terperangah. Ia memperkenalkan mobil itu sebagai kendaraan yang jarang terlihat, sebuah simbol kekuasaan yang bahkan lebih tinggi dari para tamu hotel reguler ini. Dan sekarang, pemegangnya bersandar pada pria dengan batik pudar?

“Tobias… sudah kukatakan jangan pernah mencariku lagi,” desis Jonah. Suaranya serak, matanya menatap tajam ke arah jalan raya yang mulai macet.

“Keluarga sangat merindukan Anda, Tuan Muda. Kesalahan masa lalu telah dibersihkan. Kepergian Ayah Anda menyisakan lubang besar yang hanya bisa Anda isi,” Tobias menegakkan tubuhnya, matanya berkaca-kaca. “Dunia sudah berubah. Dan aset Anda… telah berlipat ganda melampaui apa yang bisa dibayangkan manusia biasa.”

Tobias merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam. Di dalamnya terdapat kartu titanium berwarna hitam pekat dengan tekstur matte . Tidak ada nomor kartu, tidak ada nama bank. Hanya ada ukiran logo Empyrean yang berpendar samar saat terkena lampu jalan.

“Ini adalah otoritas Anda. Kartu ini bukan sekadar alat transaksi; ini adalah kunci bagi jaringan ekonomi yang tidak terlihat oleh orang awam. Sejarahnya telah mengawal peradaban bisnis kita selama tiga dekade,” Tobias menyodorkan kartu itu dengan kedua tangannya. “Batasnya adalah ketiadaan. Karena Anda adalah pemilik dari sistem itu sendiri.”

Jonah menatap kartu tersebut. Bayangan wajah Ibu Suri yang tercetak di ICU rumah sakit tepi melintas di ingatan. Lalu, bayangan wajah Ellia yang harus menahan rasa malu setiap hari karena memilikinya sebagai suami.

“Apa yang terjadi dengan Empyrean Group di Jakarta?” tanya Jonah dingin.

“Kami baru saja menyelesaikan akuisisi terbesar tahun ini, Tuan Muda. Semua strategi sektor kini berada di bawah kendali kami. Direktur operasional pilihan Anda, Noa , sedang menunggu di markas besar untuk laporan pertama.”

Jonah mengambil kartu titanium itu. Rasanya dingin dan berat—jauh lebih berat daripada beban hinaan yang ia terima di ballroom tadi.

“Katakan pada Noa,” Jonah menatap gedung Hotel Mulia di belakangnya dengan melipat yang seolah bisa menembus dinding beton. “Aku ingin daftar semua kontrak kerjasama keluarga Kiser dengan Empyrean Group dan anak perusahaannya. Temukan satu celah, dan batalkan semuanya besok pagi. Aku ingin mereka tahu bagaimana rasanya berdiri di tengah hujan tanpa payung.”

Tobias Mutta tersenyum tipis. “Perintah diterima, Tuan Muda. Mari, mobil sudah siap.”

Jonah masuk ke dalam sedan hitam itu. Saat pintu tertutup dengan dentum yang solid, ia tahu bahwa mulai detik ini, “Jonah si Menuntu Sampah” sudah tamat. Yang tersisa hanyalah Wara yang akan meruntuhkan kesombongan keluarga Kiser, bata demi bata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *