Otoritas Jonah – Bab 10

Bab 10: Tamu yang Tak Diundang

“Serigala tidak pernah mengetuk pintu dengan taring yang terbuka. Ia datang dengan pakaian domba, membawa perjanjian yang terlihat seperti peluang, namun berujung pada pengabdian seumur hidup.”

Keheningan di ruang utama keluarga Kiser setelah terbongkarnya niat busuk Sanjaya masih menyisakan ketegangan. Eyang Kiser akhirnya menutup map cokelat itu dengan tangan bergetar, sementara Sanjaya dan Rama hanya bisa membuang muka, tak berani menatap mata Jonah yang tajam.

“Kita pulang, El,” ucap Jonah pelan namun tegas. Ia menggandeng tangan istrinya, membawa Ellia keluar dari rumah yang penuh dengan kemunafikan itu tanpa menoleh sedikit pun.

Di dalam mobil, Ellia masih tampak melamun. “Jonah, aku tidak pernah menyangka mereka akan sejauh itu. Menjadikan proyekku sebagai jaminan hutang Sanjaya… itu hampir menghancurkan segalanya.”

Jonah fokus pada jalanan Jakarta yang mulai padat. “Orang yang terdesak akan melakukan apa saja untuk tetap bernapas, El. Bahkan jika itu berarti menenggelamkan orang terdekatnya. Mulai sekarang, jangan pernah menandatangani apa pun tanpa mendiskusikannya dengannya. Dunia bisnis jauh lebih kejam daripada baris kode yang pernah kubuat.”

Ellia menatap suaminya dengan penuh tanya. “Kadang aku merasa kamu tahu segalanya sebelum itu terjadi. Bagaimana kamu bisa melihat pasal tersembunyi itu begitu cepat?”

“Hanya kebiasaan membaca detail kecil, El. Di sistem IT, satu titik yang salah bisa merusak seluruh program. Aku hanya menerapkan logika yang sama pada manusia,” jawab Jonah merendah.

Namun, ketenangan mereka terusik saat ponsel Jonah bergetar di dasbor mobil. Sebuah notifikasi dari sistem keamanan WARA Labs muncul. Bukan serangan digital, melainkan laporan dari Tobias Wara.

“Tuan Muda, ada tamu yang menunggu di kediaman Anda. Ia mengaku sebagai perwakilan dari Konsorsium Tenggara. Inisialnya adalah D. Ia meninggalkan sebuah amplop hitam di depan pintu.”

Jantung Jonah berdegup sedikit lebih kencang. Ia segera memutar arah mobilnya menuju rumah mereka.

Sesampainya di rumah, Jonah menemukan sebuah amplop hitam pekat terselip di sela pintu. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah stempel lilin berbentuk logo kuno yang sangat ia kenali—lambang yang pernah ia lihat di buku catatan ayahnya sebelum keluarga Abraham runtuh belasan tahun lalu.

Di dalamnya hanya ada selembar kartu kecil bertuliskan:
“Selamat atas langkah pertamamu, Wara. Tapi ingat, penguasa kota ini tidak suka jika ada bidak lama yang mencoba bermain di papan baru. Sampai jumpa di pelelangan pusat minggu depan.”

Jonah meremas kartu itu hingga hancur dalam genggamannya. Siapa pun “D” ini, dia bukan hanya tahu tentang identitasnya, tapi juga sedang mengawasi setiap gerakannya dari jarak yang sangat dekat.

Keesokan harinya, drama keluarga Kiser memasuki babak baru. Karena gagal mendapatkan jaminan dari Ellia, Sanjaya mulai mencari bantuan dari pihak luar. Ia mengundang seorang pengusaha muda yang sombong bernama Derry, putra dari pemilik salah satu perusahaan rigging terbesar di Indonesia, untuk masuk ke dalam lingkaran keluarga Kiser.

Derry datang ke kantor Ellia dengan gaya flamboyan, membawa buket bunga besar dan sebuah tawaran kerja sama yang provokatif.

“Aku dengar proyek Heritage Row sedang butuh suplai aluminium rigging dalam jumlah besar,” ucap Derry sambil melirik Jonah yang sedang sibuk mengecek konfigurasi kabel di pojok ruangan dengan tatapan meremehkan. “Aku bisa memberikan harga yang tidak mungkin diberikan vendor lain, asalkan… Ellia, kau mau makan malam denganku malam ini untuk membahas detailnya secara privat.”

Jonah berdiri, menepis debu di tangannya. “Maaf, Tuan Derry. Istri saya sudah memiliki jadwal yang padat. Dan soal suplai material, kami sudah memiliki jalur yang jauh lebih stabil.”

Derry tertawa meremehkan, suaranya menggema di kantor kecil itu. “Hanya tukang kabel, jangan ikut campur urusan profesional. Ellia, kau harus tahu, di industri ini, siapa yang kau kenal jauh lebih penting daripada apa yang kau bangun. Suamimu ini mungkin bisa membetulkan internetmu, tapi dia tidak bisa memberimu akses ke lingkaran elit Jakarta. Perusahaan rigging ayahku adalah penguasa pasar, dan tanpa tanda tanganku, proyekmu hanya akan jadi tumpukan besi tua.”

Jonah hanya tersenyum tipis—senyuman yang menandakan bahwa Derry baru saja mendaftarkan dirinya ke dalam sistem “pembersihan” yang akan segera dijalankan Jonah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *