Otoritas Jonah – Bab 9

Bab 9: Bug dalam Silsilah

“Kadang kala, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang memegang senjata di garis depan, melainkan mereka yang tersenyum di meja makan keluarga sambil diam-diam menanam virus dalam sistem hidupmu.”

Makan malam di rumah kecil Jonah dan Ellia terasa jauh lebih hangat malam itu. Aroma ayam goreng bumbu kuning dan sambal terasi memenuhi ruangan. Namun, di balik senyumnya, pikiran Jonah masih tertuju pada aktivitas ping dari Singapura yang dilaporkan Noa tadi. Siapa pun “D” itu, mereka memiliki akses ke jaringan yang tidak sembarangan.

“Jonah,” panggil Ellia lembut, memecah lamunannya. “Tadi sore Eyang menelepon. Suaranya terdengar sangat lemah. Beliau ingin kita datang ke rumah utama besok siang. Katanya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan mengenai akta warisan keluarga.”

Jonah meletakkan sendoknya. “Akta warisan? Setelah apa yang terjadi dengan Margo dan proyek Metropolis yang gagal?”

Ellia mengangguk. “Aku tahu ini mencurigakan. Tapi Eyang bilang, beliau ingin meminta maaf secara resmi di depan seluruh anggota keluarga Kiser. Beliau sadar bahwa satu-satunya yang bisa menyelamatkan nama Kiser sekarang hanyalah proyek Heritage Row yang aku pegang.”

Jonah tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya ia berikan saat melihat sebuah sistem yang terlalu mudah untuk diretas. “Mereka tidak sedang mengundang kita untuk meminta maaf, El. Mereka sedang mencoba melakukan system restore untuk mengembalikan kendali mereka atas dirimu.”

“Maksudmu?”

“Mereka butuh legitimasi proyekmu untuk menjamin hutang-hutang mereka yang lain. Jika kamu datang dan menerima ‘warisan’ itu, secara hukum posisi perusahaannmu bisa dianggap sebagai bagian dari aset konsolidasi trah Kiser. Itu jebakan hukum, bukan penyesalan,” jelas Jonah dengan logika seorang arsitek sistem.

Ellia terdiam. Ia baru menyadari betapa liciknya langkah yang mungkin diambil keluarganya. “Lalu, apa aku harus menolak?”

“Jangan ditolak,” Jonah menatap mata istrinya dengan keyakinan penuh. “Kita datang. Tapi kita tidak akan datang sebagai peminta maaf. Kita akan datang untuk memasang firewall permanen antara bisnismu dan hutang-hutang mereka.”

Keesokan harinya, Jonah tidak mengenakan batik pudarnya. Ia memilih kemeja hitam polos dengan potongan yang pas di tubuh, memberikan kesan otoritas yang tenang. Meskipun tetap terlihat sederhana bagi orang awam, Tobias Wara telah memastikan bahwa serat kain kemeja itu mengandung teknologi pelindung yang tak terlihat.

Sesampainya di kediaman utama Kiser, suasana tampak sangat formal. Semua anggota keluarga berkumpul—Rama, Arumi, Sulia, Warsi, hingga Cika yang tampak tertunduk. Di tengah ruangan, Eyang Kiser duduk di kursi jati besarnya, memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua.

“Ellia, Jonah… duduklah,” suara Eyang Kiser terdengar parau. “Setelah merenung panjang, aku menyadari bahwa masa depan Kiser ada di tanganmu, Ellia. Map ini berisi pengalihan hak kelola beberapa aset keluarga kepadamu, sebagai bentuk permohonan maafku.”

Margo, yang duduk di samping Eyang, menatap Jonah dengan kebencian yang tertahan, namun ia tak berani bersuara setelah kejadian di kantor tempo hari.

Jonah melangkah maju, tepat sebelum jemari Ellia menyentuh pena di atas meja. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa berat, seperti udara sesaat sebelum badai petir pecah.

“Eyang,” suara Jonah rendah, namun memiliki resonansi yang membuat Rama dan Sanjaya tersentak. “Dalam dunia saya, sebuah janji hanya sekuat data yang mendukungnya. Dan data di dokumen ini… tidak sinkron dengan niat baik yang Eyang sampaikan.”

Rama berdiri, wajahnya merah padam. “Jonah! Jangan mencampuri urusan yang tidak kamu mengerti. Ini masalah hukum dan aset keluarga!”

Jonah tidak terpancing. Ia membalik halaman dokumen itu dengan tenang, lalu menunjuk sebuah paragraf di bagian bawah yang dicetak dengan font yang sedikit lebih tipis.

“Masalahnya, Tuan Rama, saya mengerti lebih dari yang Anda duga. Pasal ini menyatakan bahwa semua aset Ellia akan dijadikan jaminan untuk pinjaman pihak ketiga. Secara sederhana: jika Sanjaya gagal membayar hutang pribadinya, maka seluruh proyek Ellia akan disita oleh bank tanpa sisa.”

Jonah menatap Sanjaya yang kini mulai berkeringat dingin. “Menaruh beban seberat itu di pundak istri saya secara diam-diam… apakah itu yang kalian sebut keluarga?”

Eyang Kiser terdiam, matanya menatap dokumen itu dengan nanar. Entah beliau memang tidak tahu atau sedang berpura-pura tidak tahu, namun otoritas Jonah di ruangan itu kini tak bisa dibantah lagi.

“Dunia ini bergerak dengan transparansi sekarang,” lanjut Jonah sembari menutup map cokelat itu. “Dan transparansi adalah musuh terbesar bagi mereka yang terbiasa bermain di balik bayangan. Ellia tidak akan menandatangani ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *